ITB, UHO dan BRIN Sosialisasi Bencana Gempa, Tsunami dan Banjir di Wawonii Utara
Dilihat: 1 kali
Konawe Kepulauan, Konkepkab.go.id – Puluhan warga Desa Tombaone Utama, Kecamatan Wawonii Utara, Kabupaten Konawe Kepulauan, mengikuti kegiatan edukasi dan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan bencana yang diselenggarakan oleh tim kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Universitas Halu Oleo (UHO), Minggu (12/7). Kegiatan pemberdayaan masyarakat ini dipimpin oleh Dr. Endra Gunawan dari Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan anggota tim yang terdiri atas Dr. Eka Oktariyanto Nugroho dan Dr. Yuamar Imarrazzan Basarah dari Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL), ITB, serta Dr. Nuraini Rahma Hanifa dari BRIN, dan Ir. Sulha dari Prodi Teknik Sipil UHO. Kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa dari ITB dan UHO. Kegiatan sosialisasi yang dilakukan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap berbagai ancaman bencana yang berpotensi terjadi di wilayah pesisir Pulau Wawonii, khususnya gempa bumi, tsunami, banjir, dan potensi likuifaksi.
“Wawonii Utara rentan terhadap bencana gempa dan tsunami. Bahkan, keterangan yang disampaikan oleh orang-orang tua disini, bahwa dahulu antara 1950-1960 an pernah terjadi tsunami menerjang wilayah ini”, ujar Endra Gunawan pada saat membuka kegiatan sosialisasi tersebut. “Rute evakuasi ke zona aman harus disiapkan, agar masyarakat memiliki zona kumpul pada saat bencana terjadi, baik tsunami, maupun banjir”, tambah Nuraini Rahma Hanifa.
Untuk itu, salah satu kegiatan utama dalam kegiatan pengabdian masyarakat ITB ini adalah pengenalan dan penyusunan jalur evakuasi pada area yang berpotensi terdampak bencana tsunami maupun banjir. Kegiatan bersama masyarakat dilakukan dengan identifikasi lokasi rawan genangan dan penentuan rute evakuasi yang aman.
Menurut warga desa, ketinggian genangan pada beberapa kejadian banjir bahkan dapat mencapai dada orang dewasa. Kondisi tersebut menyebabkan mobilitas masyarakat terganggu dan proses evakuasi seringkali dilakukan menggunakan perahu.
“Kalau banjir besar terjadi, air bisa mencapai dada orang dewasa. Warga yang terdampak biasanya harus dievakuasi menggunakan perahu karena akses jalan tidak dapat dilalui,” ungkap warga desa. Selanjutnya Eka Oktariyanto memberikan arahan mengenai langkah-langkah mitigasi banjir berbasis kondisi lingkungan setempat. “Ketika banjir terjadi, masyarakat harus segera menuju lokasi yang memiliki elevasi lebih tinggi dan menghindari area yang berpotensi terisolasi oleh genangan maupun arus banjir”, ujarnya. “Sangat penting untuk menjaga kawasan hulu dari aktivitas pembalakan liar, karena berkurangnya tutupan vegetasi di daerah hulu dapat meningkatkan limpasan permukaan dan memperbesar risiko terjadinya banjir di wilayah hilir”, ujarnya. Menurutnya, upaya pengurangan risiko bencana perlu dilakukan secara terpadu melalui peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
Lebih lanjut Endra Gunawan menambahkan, “ Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyusunan jalur evakuasi atau penyampaian materi kebencanaan, tetapi juga bertujuan membangun kesadaran masyarakat terhadap ancaman bencana yang berpotensi terjadi secara berulang di wilayah Sulawesi Tenggara. Gempa bumi, tsunami, dan banjir merupakan bagian dari siklus bencana yang perlu dipahami oleh masyarakat agar dapat diantisipasi dengan lebih baik. Fokus kami adalah memastikan masyarakat memiliki tingkat kesadaran (awareness) yang tinggi terhadap siklus bencana gempa, tsunami, dan banjir yang memiliki potensi hadir secara periodik atau berulang di wilayah Sulawesi Tenggara. Target akhirnya adalah meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat dan wilayah sehingga lebih siap menghadapi bencana di masa mendatang.”
Melalui sosialisasi dan diskusi bersama warga, sejumlah jalur evakuasi menuju lokasi yang lebih aman berhasil diidentifikasi dan diharapkan dapat menjadi panduan bagi masyarakat dalam melakukan evakuasi secara cepat dan terarah ketika tsunami maupun banjir kembali terjadi.